Dampak Covid-19, Membuat Ali Zamroni Merasa Miris Terhadap Dunia Pendidikan

by |16 views

FAJARBANTEN.COM – Anggota Komisi X DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Banten I (Lebak-Pandeglang), Ali Zamroni mengatakan, bahwa wabah pandemi Covid 19 ini, imbasnya sangat berdampak pada segala sektor kehidupan, maupun pembangunan.

Bahkan dia mengaku, dampak paling signifikan dan paling buruk tersebut, terjadi pada sektor pembangunan manusia, atau lebih khusus pada sektor pendidikan, yang menurutnya paling terpuruk. Hal ini diungkapkan Ali Zamroni pada saat bincang santai bersama sejumlah awak media di salah satu rumah makan di Pandeglang, Rabu (13/1/2021).

“Harus kita akui, bahwa fenomena wabah Covid-19 ini, telah memberi pengaruh yang sangat buruk bagi sendi-sendi berbangsa dan bernegara. Bahkan dari semua sektor yang terdampak itu, saya rasa sektor Pendidikanlah yang paling terdampak. Kita tahu, semua aktifitas sudah mulai berjalan, meskipun ada pembatasan-pembatasan, tapi lihat dunia pendidikan, pembelajaran secara efektif melalui tatap muka, hingga kini kan belum juga bisa dilakukan,” terang Ali Zamroni.

Baca Juga  KKM Untirta di Pager Batu, Memberi Dampak Positif Bagi Warga

Menurut Anggota DPR RI yang komisinya membidangi Pendidikan, Pariwisata, Perpusnas dan Olahraga ini, mengaku miris, bila pembelajaran daring (dalam jaringan) terus berlanjut seperti ini. Kekhawatirannya, bukan pada kualitas kemampuan pengetahuannya, akan tetapi lebih pada kualitas moral dan ahlak, yang dirasa akan semakin terkikis.

“Bukan tidak setuju dengan adanya pembelajaran daring ini, saya pun sadar dengan kondisi yang terjadi. Namun, diakui atau tidak, bahwa efek negatif dari pembelajaran daring ini, jelas berdampak signifikan pada prilaku siswa, yang seharusnya disiplin dalam berprilaku, kalau daring kan si guru, atau pengajar tidak pernah tahu prilaku siswa nya. Kan bisa saja belajar sambil tiduran, atau duduk dengan kaki naik ke meja, atau yang lainnya, ini contoh kecil saja,” tambahnya.

Baca Juga  Warga Pandeglang Kembali Dihebohkan Dengan Temuan Mayat Dalam Karung

Masih menurut Ali, bahwa pembelajaran daring tersebut jelas butuh kos (biaya) ekstra bagi orang tua, untuk memfasilitasi anaknya belajar, baik itu ketersediaan gawai (Hp), maupun ketersediaan jaringan internet (kuota). Demikian sebaliknya, bilamana siswa yang seharusnya belajar daring, namun tidak punya gawai, atau daerahnya tidak ada jaringan komunikasi dan internet.

“Inilah yang akan kita bawa nanti pada saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) kita (Komisi X) dengan Kemendiknas. Mereka harus punya dan perlu ada terobosan yang luar biasa di dunia pendidikan. Yang nantinya akan mengangkat kesejahteraan bersama, baik guru maupun tingkat kecerdasan anak didiknya. Khususnya itu, segi pendidikan moral dan akhlak itu. Soalnya hingga saat ini, pemerintah masih menerapkan kebijakan pembelajaran daring,” pungkasnya. (Daday)

Baca Juga  Akademisi UNMA Nilai, Bupati Pandeglanh Tak Miliki "Grand Design" Kepariwisataan