Ini Rahasia Dibalik Pertemuan Jokowi Dan Suku Anak Dalam

by |76 views

Fajarbanten.com – Presiden Jokowi berdialog langsung dengan Suku Anak Dalam pada sebuah kebun kelapa sawit. Banyak pihak yang kemudian mempertanyakan kebun sawit tersebut karena dianggap bukan permukiman Suku Anak Dalam.

“Kalau dibilang masuk wilayah Suku Anak Dalam, memang wilayahnya. Tetapi itu bukan kebun mereka, melainkan kebun milik masyarakat,” ujar Kopka Husni Thamrin, anggota Babinsa yang juga penerjemah bahasa Suku Anak Dalam untuk Presiden Jokowi.
Suku Anak Dalam tinggal dalam hutan yang jauh lebih dalam lagi. Benarkah tempat dialog terpaksa digelar di kebun sawit lantaran hutan terbakar?

“Kalau dibilang kebakaran hutan ya tidak juga. Karena untuk permukiman Suku Anak Dalam sebetulnya yang terbakar itu kebanyakan adalah daun-daun kering. Pohon-pohon malah tidak terbakar. Sebetulnya di dalam hutan itu udaranya jauh lebih bagus daripada di luar, karena masih banyak pohon,” tutur Thamrin.

Baca Juga  Maju Jadi Caleg, Sastri Sebut Ingin Masyarakat Pandeglang Maju

Lalu, apa yang membuat Suku Anak Dalam keluar dari hutan?

“Jadi setiap satu minggu sekali itu ada kegiatan ‘pekan’ di wilayah kami. Setiap minggu warga Suku Anak Dalam ke pasar untuk beli beras dan lain sebagainya,” jawab Thamrin.

Waktu tempuh perjalanan dari dalam hutan ke pasar di desa adalah satu hari satu malam dengan berjalan kaki. Biasanya Suku Anak Dalam keluar pada hari Minggu dan sampai pasar di hari Selasa.

Baca Juga  Ketua DPRD Siap Bantu Penyediaan Kantor Sekretariat Baznas

Pada saat berdialog dengan Presiden memang mereka sedang perjalanan menuju dalam hutan. Tak jarang pula warga Suku Anak Dalam singgah di tenda-tenda di kebun sawit tersebut.

Berdasarkan cerita Mensos Khafifah Indar Parawansa, Jokowi berjumpa dengan kelompok di kebun sawit tersebut tak lama setelah mendarat pukul 15.17 WIB. Kelompok itu tak berpakaian. Jokowi lalu berbincang santai dan menanyakan beberapa hal, salah satunya terkait rumah tinggal mereka.

Baca Juga  Lita Mulyati Aleg Lebak Tutup Usia

Mereka yang berpenampilan tanpa busana itu berasal dari kelompok Meriau. Berdasar warna lingkaran foto yang beredar di medsos, Thamrin menjelaskan, wajah yang dilingkari kuning adalah Meriau, sementara wajah dilingkari biru bernama Ngelawang yang juga adik kandung Meriau, lingkaran hijau bernama Nyerak, lingkaran putih yakni Genab, dan lingkaran merah adalah Thamrin sang penerjemah.

“Yang diobrolkan di mana dia minta bantuan rumah minta dibangunkan rumah dekat dengan mata pencaharian mereka. Mereka kan nggak punya ladang karet, ada yang masih berburu, jadi mereka minta rumah dekat mata pencarian mereka,” paparnya.